Zuhair Al-Shun : Palestina Tidak Pernah Memusuhi Yahudi

Signal, Jakarta – Penjajahan Palestina dari kaum zionis Israel masih juga belum berakhir meskipun genjatan senjata telah dilakukan pada tanggal 21 Mei 2021 yang lalu.

Dalam diskusi Lingkar Merdeka di Gedung SMSI Press Club Jalan Veteran 2, Jakarta, Selasa, 1 Juni 2021 menghadirkan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun, banyak hal yang terungkap seputar pendudukan Israel atas Palestina.

Diskusi Lingkar Merdeka yang dirancang oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) diikuti pengurus dan anggota SMSI yang tersebar di seluruh Indonesia.

Seperti sudah menjadi pengetahuan umum bersama, pendudukan Palestina oleh Israel bermula dari perebutan wilayah geografis yang terletak di antara Laut Mediterania dan Sungai Jordan.

Tetapi wilayah ini pada peta diberi label Israel padahal terdapat kota Yerusalem yang dianggap suci bagi orang Arab Palestina maupun orang Yahudi Israel dan masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam, yang juga dihormati oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount.

Mungkin sepintas persoalan nampak sederhana, tetapi pada kenyataannya konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel menimbulkan banyak masalah pelik. Seperti, di mana perbatasan Israel dan Palestina, kemudian nasib pengungsi Palestina di mana mereka saat ini dikuasai Israel.

Proses penyelesaian konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini telah menimbulkan konflik-konflik lain yang tumpang tindih membuat hubungan Palestina dan Israel selalu bermusuhan padahal berdampingan. Bahkan, Israel melakukan pendudukan militer yang membuat warga Palestina menderita.

Retno Intani, Seniorita TVRI dan saat ini Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan SMSI, memandu diskusi secara online.

Mengawali diskusi, Sekjen SMSI, Mohammad Nasir memberikan catatan kunci bahwa pers Indonesia berempati pada penderitaan warga Palestina atas agresi Israel yang belum berakhir.

“SMSI mendorong agar segera dapat terwujud perdamaian yang memberi kemerdekaan penuh negara Palestina,” tutur Mohammad Nasir.

Sementara dalam paparannya, Zuhair Al-Shun menyatakan bahwa Palestina tidak pernah memusuhi Yahudi tetapi ada pihak dari negara Israel untuk terus menerus membuat narasi permusuhan antar agama.

“Kebiadaban tentara zionis Israel telah memakan banyak korban jiwa terutama anak-anak, lanjut usia dan kaum perempuan di Palestina. Tetapi para pejuang Palestina juga melakukan perlawanan dengan gagah berani sehingga kemudian tercapai gencatan senjata,” tutur Zuhair.

Ketika ditanya lebih lanjut oleh peserta diskusi, apa yang akan dilakukan Palestina pasca genjatan senjata, Zuhair Al-Shun menjawab “Bagi kami, bukan hanya genjatan senjata yang ingin dicapai, tetapi kemerdekaan Palestina, termasuk pembebasan Masjid Al-Aqsa dari cengkeraman tentara pendudukan Israel” tegasnya.

“Bahkan, situasi di masjid Al-Aqsa serta di kawasan pemukiman Palestina di wilayah Sheikh Jarrah sampai sekarang masih memanas, Israel selalu melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan genjatan senjata,” tambahnya.

Mendukung kemerdekaan sepenuhnya bagi rakyat Palestina itu berarti sebuah sikap yang konsisten dengan konstitusi Negara kita yang menegaskan kemerdekaan adalah hak setiap bangsa oleh karenanya, pers Indonesia selalu mendorong terwujudnya perdamaian dan kemerdekaan bagi Palestina.

Atas pemberitaan media massa di Indonesia yang selalu membela kepentingan rakyat Palestina dari penjajahan Israel, Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia itu menyatakan terima kasih tak terhingga.

Pertanyaan dari peserta diskusi yang belum diperoleh jawabannya adalah, mengapa dalam dalam konflik Israel-Palestina ini PBB (United Nations) tidak turun tangan menengahi.

Selain menghadirkan Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia, diskusi bulanan Forum Lingkar Merdeka SMSI kali ini juga menghadirkan pembicara Aat Surya Safaat wartawan senior Antara dan Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri SMSI Pusat yang menguatkan dukungan pers terhadap perjuangan warga Palestina untuk merdeka penuh.
(TH)

Comments
Loading...