Menela’ah Filosofi Makna Puasa Ramadhan

SIGNAL | Perintah berpuasa dibulan suci ramadhan merupakan perintah yang sangat mulia bagi seluruh Umat muslim yamg beriman, seperti yang telah tercatat dalam Kalamullah Surat Al Baqarah ayat 183 tentang Puasa Ramadhan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Yang pada intinya ayat ini menjelaskan bahwa dengan berpuasa kita diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah seperti taqwanya orang orang terdahulu. Berpuasa adalah melatih diri untuk dapat maksimal dalam melakukan aktivitas yang bernilai ibadah baik secara dzohir maupun batin, berpuasa melatih kita untuk berfikir jernih bertutur indah dan berbuat baik yang dijaga secara konsisten selama tiga puluh hari berturut turut sehingga hal ini akan menjadi kebiasaan kita yang akan membentuk jiwa jiwa generasi muslim yang berkarakter mulia.

Jika dilihat secara idiomatis seperti konsep Margareta yg memahami sebuah takdir manusia itu ditentukan oleh cara orang berfikir, jika berfikir positif maka takdirnya akan baik dan begitupun sebaliknya. Beliau mengatakan:

“Coba perhatikan apa yang kalian fikirkan itu akan menjadi apa yang akan kalian ucapkan, apa yang kalian katakan itu akan menjadi tindakan (action) dan apa yang kalian lakukan itu akan terulang sehingga menjadi sebuah hebtis/ kebiasaan, dan bagaimana kebiasaan kalian itu akan menjadi karakter kalian, bagaimana karakter kalian maka begitulah takdir kalian atau dengan kata lain takdirmu ditentukan bagaimana cara berfikir anda”

Jika kita hayati, hubungannya dengan makna berpuasa maka Allah sepertinya sedang mengajarkan kepada kita konsep leadership yang sangat amat luar biasa, kita dituntut untuk berfikir jernih, bertutur indah berperilaku baik secara konsisten yang nantinya akan membentuk pribadi yang berkarakter.

Sehingga, konsep leadership Allah dengan berpuasa tujuanya bukanlah hanya sebatas menjadi pemimpin organisasi, bukan sekedar pemimpin perusahaan bahkan pemimpin negara sekalipun, akan tetapi leadership yang Allah ajarkan dengan konsep puasa Ramadhan ini adalah kepemimpinan untuk menjadi role model pemimpin dunia akhirat maka hal ini selaras dengan makna “Ihdinassirotol Mustaqim” di mana selalu kita panjatkan disetiap solat, dan jalan lurus yang dimaksud adalah jalannya orang orang yang bertaqwa oleh karena itu Allah rangkum konsep bagaimna caranya kita agar sampai pada tingkat taqwa yang baik, dengan motode berpuasa dibulan suci ramadhan sehingga setelah selesai ramadahan kita tumbuh menjadi generasi muslim yang berkarakter mulia.

Berpuasa dibulan Ramadhan bukanlah semata-mata hanya persiapan untuk menyambut hari raya sebagai simbol kemenangan saja, akan tetapi dalam 30 hari lamanya kita berpuasa dibulan suci ramadhan adalah untuk pengumpulan bekal agar kita dapat menghadapi segala ujian dan problematika hidup yg dinamis di 11 bulan yang akan datang.

Sehingga, setelah ramadhan berlalu kita telah memiliki pondasi ketaqwaan dan keimanan yang kuat, kita mampu mengemban amanah Allah menjadi pemimpin di muka bumi. Karena pada dasarnya karakter kehidupan adalah berubah. Baik perubahan secara positif maupun negatif akan tetapi insan yang beriman dan bertaqwa memahami bahwa konsep kehidupan dalam bermasyarakat mengenal akan adanya aspek kebermanfaatan yang mengacu pada faham kesejahteraan, keadilan dan kepastian.

Jadi hal tersebut dapat mengontrol perkembangan zaman dari masa ke masa agar perubahan menjadi selalu lebih baik dan semakin baik. Islam mengajarkan adanya konsep hablu minnas wa hablu minallah (cinta pada sesama dan cinta pada Rabbnya) yang pada intinya Rasullullah menjelaskan:

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“sebaik-baiknya manusia adalah yg bermanfaat bagi yang lainya”

Artinya pesan prinsip dan moral yang disampaikan Rasullullah adalah mendorong maju aspek kebermanfaatan dan menyebarnya kebaikan secara luas, dan bukanlah popularitas baik untuk kepentingan individu maupun mayoritas yang harus diprioritaskan.

Maka dengan keadaan yang sedang krisis prinsip dan moral saat ini, bulan puasa menjadikan kita berintrospeksi diri agar lebih baik lagi, karena krisis prinsip dan moral itu ditandai dengan tindakan yang dulu dianggap sebagai aib tapi kini malah menjadi gaya dan style hidup dimasa kini.

Sungguh memilukan generasi masa kini, padahal baik dan buruk semakin jelas tetapi akal dan fikiran tidaklah cerdas,
Ilmu pengetahuan mereka sangat terbatas, tapi popularitas mereka melampaui batas,
Generasi emas bukanlah generasi malas, Generasi cerdas tidak krisis akan prinsip dan moralitas.

Kepada generasi muslim yang cerdas marilah kita songsong masa depan yang lebih sukses, dengan kecerdasan tiada batas, menyebarkan kebaikan secara luas tidak mengharapkan popularitas tanpa visi misi yang jelas. Sehingga salah satu hikmah filosofi pada makna puasa Ramadan kali ini dapat membentuk regenerasi para pemimpin umat yang cerdas dan berkarakter.

Oleh: Caskiman, S.S.,M.H. Alumni Pendidikan Mubaligh Al Azhar (PMA)

Comments
Loading...